Pages

Thursday, 7 March 2013

Tips Menjadi Penulis Sejahtera By Dian Kristiani


  • Tips menjadi penulis sejahtera

    By Dian Kristiani in Komunitas Penulis-Bacaan-Anak (Files) · 



    Hari ini, saya akan menunaikan janji untuk berbagi tips menjadi penulis sejahtera. Well, saya memang bukan Andrea Hirata, atau JK Rowlings. Namun, saya merasa kehidupan saya cukup sejahtera, dan berani menjadikan menulis menjadi satu-satunya profesi saya, setelah terkena PHK di tahun 2010.

     

    Yang saya tulis di sini, sifatnya amat individual, jadi bisa saja amat berbeda dengan teman-teman yang lain. Semoga saja tulisan ini bisa memberi sedikit pencerahan, dan jangan ragu untuk memutuskan untuk menjadi penulis profesional. Penghasilan kita nggak kalah kok, dibanding pegawai kantoran. Trust me. Kalo nggak gitu, kenapa saya nggak bingung nyari kerjaan lagi pasca PHK?

     

    Oya, tulisan ini memang saya tujukan bagi temans yang pengen menjadikan menulis sebagai sarana mencari nafkah ya? Jadi saya harap, nggak ada yang komen "ah kok matre, saya mah nulis untuk kesenangan pribadi, untuk amal, untuk berbagi, dll,"Mari kita fokus pada kebutuhan teman-teman akan pertanyaan "Bisakah menyandarkan diri pada profesi penulis?"

     

    Saya akan berbagi tips, bagaimana supaya karya-karya kita terus diterima, baik oleh media, penerbit, dan juga market. Karena, bagaimanapun juga penentu akhir adalah market. Bagaimana kita mau sejahtera jika buku kita ndak laku. Betul?


     

    1. Pastikan, bahwa karya kita memang bagus. Caranya? Gak usah saya sebutkan, nanti pembahasannya malah melenceng dan saya dikira banyak ngajari ini dan itu :))2. Percaya bahwa ada kuasa Ilahi yang membantu. Ini juga nggak perlu dibahas lebih lanjut, karena tiap individu berbeda kadar keimanannya.3. Niatkan secara serius : INI ADALAH JALAN YANG AKAN KUTEMPUH. Jangan "Ah, iseng ah. Siapa tau berhasil. Nggak ada ruginya juga,"Boleh, kalau kalian memang menjadikan menulis hanya sebagai hobi yang menghasilkan. Tapi jika mau menjadikannya sebagai sumber nafkah, please don't think like that.

    4. Mulailah mensasar (eh, bener gak ya istilahnya) media yang akan dituju. Kenali potensimu. Apakah nulis cerita anak? Apakah nulis kisah inspiratif? Apakah kisah lucu? Atau apa?

    Kalo saya, saya sudah memposisikan diri sebagai penulis cerita anak, dan juga penulis cerita humor.

    5. Beli majalah-majalahnya, pelajari model tulisannya. Praktikkan. Klise ya? Pasti pada bosen deh baca poin ini. Tapi ini bener loh, beda media beda tipe. Saya baru aja nembus ke Reader's Digest, padahal ngirimnya baru bulan lalu. Saya yakin, ini karena saya ngerti apa yang mereka maui. Cerita humor, dengan maksimal 100 kata. Coba kalo saya nggak pernah mempelajari majalahnya, bisa2 saya asal aja ngirim cerita humor 300 kata. Hasilnya? Mungkin naskah saya ditendang ke bulan.

    6. Tulis, kirim, lupakan, tulis, kirim, lupakan, dan sambil terus aktif (or agresif ya?) mencari info media apa saja yang kira-kira bisa kita sosor eh sasar. Pasang mata, pasang telinga. Jangan hanya FBan tak jelas dan tak tentu arah. Sambil FBan, pelototi juga status teman-teman yang "eh, cerita gue dimuat di Bobo," atau "Eh, ada tulisanku di Majalah Kartini,".Lalu, cari tau, apa sih yang dimuat? Cocokkah untukku? Kira-kira aku bisa nggak? Kalo bisa, langsung hajar. Kalo belum bisa, simpen dulu. Siapa tau, suatu saat kita jadi bisa.

    7. Hal yang sama berlaku jika kita mau nembus penerbit. Cari tahu, jangan bosan. Pasang mata, pasang telinga. Pelototi websitenya. Rasakan, rasakan dan rasakan. Kalau sudah merasa bahwa "Oh, sepertinya aku bisa nih ke sini," segera ANGKAT TELPON atau tulis imel untuk bertanya/memperkenalkan diri. Boleh juga mengirim langsung naskah lengkap yang kalian rasa, bakal cocok untuk penerbit itu.

    8. JANGAN PELIT untuk cari tahu via telpon, atau pelit beli buku/majalah untuk belajar. Saya sering sedih, kalo liat ada teman yang bilang "Wah, telpon kan mahal?" atau "Beli majalah/buku? La uang belanja saya aja mefet," dst dst. Sorry to say, saya gak suka ama orang yang suka pamer kekerean. Bukan apa-apa, mbok ya o berpikir sederhana : ini investasi. Kalo mau dapat ikan besar, tentu harus pake umpan bagus (selain skill memancing yang mumpuni)

    Saya bukan orang yang maniak beli buku. Tapi kalau saya ngliat satu buku yang saya rasa akan menyuburkan ide saya, dan saya bakal bisa menikmatinya (saya nggak suka buku yang bikin kening saya berkerut, meski kata orang buku itu bagus), saya akan beli. Tapi, tentu saya nggak mau rugi. Kalo saya udah beli buku seharga seratus ribu, maka saya niatkan harus menghasilkan tulisan yang dihargai berlipat-lipat dari seratus ribu. HARUS.

    9. Pilih media atau penerbit yang JELAS. Ibaratnya, kalo sekolah itu ya yang terakreditasi A. Karena niat kita mencari nafkah, mosok ya kita mau nulis gratisan? Udah mikir nyari ide sehari semalam modal kemenyan sekilo, eh nggak dapat bayaran. Mau juga bukumu udah beredar di mana-mana, tapi kagak ada SPK? Royalti nol? Kalo aku, ogah :)

    10. Bagaimana caranya kita tau, ini penerbit OK apa ndak ya? Saya juga masih pake cara bodo2an. Ya liat aja grup di belakang mereka. Grup besar kah? Meski, konon di grup besar pun ada yang "nakal", tapi at least kita sudah meminimalisir.

    Juga, lihat buku2 di tobuk Gramedia. Penerbit apa yang merajai rak di sono? Nah, itu yang saya sosor.

    11. Meski demikian, saya tidak semerta-merta menutup kemungkinan bekerjasama dengan penerbit kecil. Namun, biasanya direkomendasikan oleh teman (baik teman penulis atau teman ilustrator). Atau, saya kenal baik dengan editornya sehingga saya yakin kalo ada apa-apa, si editor akan "pasang badan" membantu nasib saya all out :))

    Jadi, intinya harus waspada. Pasang mata, pasang telinga. Jadi penulis itu radarnya harus banter, kenceng, gak boleh lost signal :))

    Secuil informasi, amat berguna bagi masa depan kita. Lebay? Memang, hihi.

    12. SERIUS. Ini kerja, bukan main-main. Jujur, saya masih banyak cengengesannya. Masih banyak malasnya, masih banyak tidurnya. Coba kalo saya lebih serius, wow :))Kalau kita kerja di kantor aja bisa serius, kenapa saat kita kerja mandiri kok nggak serius?

    13. DISIPLIN : Beri target pada diri sendiri. Nggak usah berat-berat, karena kesehatan juga nomor satu. Kalo saya, target hanya satu cerita per hari. Lebih dari itu, saya besoknya sibuk FBan :))*don't try this at home!

    14. Jangan cepat euforia, jika ada kabar naskahmu akan diterbitkan. Trust me, perjalanan masih panjaaaaaang dan lammaaaaaa. Euforia akan membuatmu lupa menulis. Sembari calon bukumu berproses, kalian harus tetap menulis.

    15. Jangan menunggu "pintar" untuk menulis. Maksud saya gini, kalo kita merasa belum pintar menulis cerita anak, ya tetaplah menulis hal-hal yang kita sudah kuasai. Nah, sembari menulis hal-hal yang kita kuasai tsb, kita sambil belajar menulis cerita anak. Pada saatnya, kita akan memetik hasilnya.

    Contohnya : Aku belum bisa nulis cernak nih, padahal pengen.Tapi aku suka nulis lucu2an. Hajar! Tuliskan terus cerita lucu2anmu, serbu media, serbu penerbit. Nah, sembari melakukan itu, kalo memang pengen nulis cerita anak, ya belajar.

    Jangan belajar nulis cerita anak, tapi lalu melupakan potensimu yang lain, dan lupa menulis.

    16. CINTAI pekerjaan ini. Apapun yang dilakukan dengan hati senang, hasilnya akan menyenangkan.

    17. Jadilah penulis dengan pleasant personality. Jangan sampai, di mata penerbit, kalian terkenal sebagai penulis jutek, rewel, cerewet, nggak mau dikritik, gak punya sopan dll. Semua ada tata kramanya, berbicara, menulis imel, semua ada sopan santunnya.

    Saya, meski sudah akrab dengan beberapa editor dan bisa goda2an di YM, saya tetap menggunakan bahasa resmi saat menulis email.

    Saya nggak akan nulis, "Hai Mbak? Gimana nih malam minggunya? Wah, pacaran terus sampe naskah saya dilupakan nih,"Mungkin (sekali lagi, mungkin) saya bisa ngoceh kayak gitu di YM, tapi untuk email resmi, it's a big NO. Kita nggak pernah tau, email mereka itu diauto CC ke board of director atau tidak.

    18. Penulis dengan pleasant personality pasti akan diperhatikan oleh penerbit (tentu, sudah ada KUALITAS ya).

    19. Sapalah editormu secara berkala. Bukan sapaan yang meminta order, meminta kerjaan, atau nanya kapan royalti jatuh tempo. Sapalah mereka sebagai "human". "Sudah makan siang?" "Eh, ntar kalo aku kirim balik SPK, aku kirimin bandeng asap juga ya?"Sedikit sapaan, sedikit makanan (tidak mahal, hanya beberapa puluh ribu rupiah) akan membuat persahabatan terasa lebih nyaman.

    20. Bersahabatlah dengan para ilustrator. Saya sering dapet info dari ilustrator loh :)) Tapi jangan dibalik ya, "bersahabat dengan ilustrator ah, biar dapet info kerjaan,"Ingat, sesuatu yang tidak tulus, tidak akan lancar :))

    21. NABUNG. Bisa dua arti, menabung ide/naskah, juga menabung uang. Jika menerima royalti/fee, jangan euforia beli ini beli itu. Boleh beli sesuatu, tapi yang bisa menghasilkan. Contoh : Beli buku, beli kamus, beli gadget (jika memang dirasa bakal menunjang, bukan untuk gaya2an)

    22. Don't waste your time dengan onlen terus2an tanpa hasil. Onlen boleh, saya juga doyan onlen. Tapi hasil onlen saya, banyak :)Biasanya hanya berupa oret2an di agenda dengan tulisan cakar ayam. Onlen juga boleh, jika itu menyemangatimu untuk menulis/menghasilkan karya yang baik.

    Tapi kalo hanya onlen curcol-curcol bergembira, mending nggak usah lah.

    23. Pastikan SPK sudah ada di tangan sebelum buku terbit. Jangan sampe buku kita bergentayangan di pasaran tanpa SPK. Kalo sampe ada apa-apa, kita dapat apa? SPK ini variatif, ada yang memberikannya saat naskah diACC, ada yang memberikannya saat buku mau edar. Ada juga yang telat, tapi biasanya karena masalah "pak bos lagi di LN". Dan yang kayak gini nggak banyak, dan langsung beres saat pak bos pulang. Pinter2 kita menelaah lah. Kalo dirasa alasannya mengada-ada, jangan ragu untuk gencar bertanya, kapan SPKnya ada? Tentu, dengan cara sopan.

    24. Selalu cantumkan nama lengkap, no telp dan no rekening di tiap naskah yang kita kirimkan ke media. Jangan sampai, media nggak tau harus bayar honor ke siapa karena ini naskah siluman.

    25. Bergaullah dengan orang-orang yang membawa efek positif, jangan sebaliknya.

    26. Jangan sombong jika karya2mu udah mulai bermunculan. Selalu posisikan dirimu di level "anak TK" sehingga kemauanmu untuk belajar, kemauan untuk legawa bahwa naskah orang lain lebih bagus (makanya best seller, sedangkan karya kita kok nggak best seller) akan selalu terjaga.

    27. Pelajari buku2 best seller. Kenapa sih kok bisa best seller. Jika ternyata "Oalah, hanya gitu2 doang," pertanyaan selanjutnya adalah : kenapa buku kita yang nggak gitu2 doang kok nggak jadi best seller? hihi

    28. Rajin promosikan buku kita. Sekarang jamannya udah mudah. Ada aneka socmed untuk "jual diri". Buat orang2 paham, siapa dirimu. Brand yourself.

    29. Jangan berpikir bahwa "promosi mah urusan penerbit". Ya kalo penerbitnya OK untuk urusan promosi, kalo nggak? Gigit jempol deh kita, nyooot

    30. Kalau kita punya naskah humor, kita harus tau siapa saja penerbit yang menerbitkan buku humor. Apakah mereka punya fans sejati? Karena, penerbit yang demikian, biasanya buku2nya laris manis. Jangan coba-coba mengirimkan ke penerbit yang tidak spesialis humor. Well, bisa saja mereka mengACC dan bilang "Kita coba ya? Belum pernah sih nerbitin buku ginian, tapi kalo nggak nyoba nggak tau,"Biasanya (aku punya pengalaman pribadi), yang terjadi adalah salesnya anjlok. Karena apa? Segmen penerbit ybs bukanlah buku humor. Mereka nggak punya fans humor sejati.

    31. Tingkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Meski hanya pasif, dan masih ngelonin kamus, kemampuan ini penting loh. Dengan sering membaca website2 dari luar, buku2 luar, bisa merangsang imajinasi kita. Lalu, kemampuan berbahasa Inggris juga bakal membantu jika kita ingin menulis ulang cerita2 rakyat luar negeri.

    32. Rajin berbagi. Dalam artian, ya kayak aku ini loh, rajin berbagi info, berbagi pengalaman ... wkwkwk... *digampar massa Pabers!



    Eh, sudah dulu ya? Ini baru yang teringat aja. Kalo ada yang mau nambahin, monggo.

    Sekali lagi, pastikan dulu KUALITAS tulisan kita udah OK, dan siap bersaing di rimba belantara kancah cakrabirawa dunia kepenulisan. Tanpa kualitas, nggg ....



    Unlike · Follow Post · Report · March 28, 2012 at 1:09am


    sumber : https://www.facebook.com/groups/PenulisBacaanAnak/doc/417123024981283/

1 comment:

Wildan Musthofa said...

makasih banget buat infonyaa...

mampir :)